“Selamat Pagi,” sapa seorang pegawaiku.
“Selamat pagi juga semua,” sapaku pada seluruh
karyawan di butikku.
Setelah menyapa seluruh karyawan di toko kakiku pun
melangkah ke kantor pribadiku yang terletak di lantai 2. Kududukan diriku di
kursi yang ada meja kerja seperti hari-hari biasa dan mulai berkutat dengan
rancangan gaun pernikahan pesanan pelanggan. Tak berselang lama ada seseorang
yang mengetuk pintu ruanganku.
“Masuk!” seruku pada seseorang tersebut.
“Jadi
re...gimana pesanan gaun pengantin klien mu? Sudah jadi?”
Setelah mendapatkan pertanyaan dari asisten
sekaligus sahabatku yang bernama Vina ini kualihkan fokusku untuk menatap
mukanya.
“Menurutmu?” tanyaku sambil terkekeh
Dia membalas tatapanku dengan memutar bola matanya
malas.
“Haha tampangmu jelek kalau seperti itu, sini aku
perlihatkan gaun pengantin itu,”. Ucapku sambil berjalan menuju manekin di
sudut ruanganku. “Ini gaunnya menurutmu gimana, vin?”
“Bagus sih cuman---” pandangannya berpindah dari
gaun menuju ke arah manekin tempat gaun tersebut dipakaikan. “---kenapa harus di
manekin itu? Lihat deh ekspresinya gak cocok dengan gaun indahmu itu,”
sambungnya.
“Ck, kamu selalu berkomentar seperti itu pada setiap
gaun pengantin yang aku selesaikan dan aku pasang di manekin ini. Sebenarnya
ada makna kenapa aku memakaikannya di manekin itu”
“Hm.. menarik apa alasanmu?” ucapnya dengan penuh
antusias.
“Pertama, kau lihat kenapa wajah di manekin ini
seperti orang sedih? Itu alasannya mudah karena di hari pernikahan kamu akan
merasakan perasaan yang campur aduk. Bisa sedih karena bahagia, sedih karena
harus berpisah dengan orang tua, atau sedih karena dia akan mempunyai tanggung
jawab sebagai seorang istri”
“Hm masuk akal juga. Terus...katamu itu cuman alasan
pertamamu?” tanya nya dengan rasa penasaran yang semakin bertambah.
“Oke alasan kedua, kau lihat diatas wajahnya ini
terdapat sebuah benda layaknya mahkota? Pernah dengar istilah bagai ratu
semalam kan? Nah itu maksudku setelah dia mengalami peran batin dia akhirnya
berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melalui kehidupan di
pernikahannya nanti,” ucapku seraya melihat wajah penuh antusias asistenku.
“Ah..ah..aku mengerti sekarang jadi karena dua
alasan itu kamu memakaikannya di manekin itu?” ucapnya sambil menunjuk manekin
yang ada di sebelah ku.
Aku yang melihatnya hanya terkekeh melihat ekspresi
konyolnya itu “Tentu saja tidak, Vina! masih ada alasan terakhir”. Aku pun
berjalan menuju lemari penyimpanan yang ada di ruanganku dan mengambil manekin
yang sama tapi yang ini tanpa menggunakan mahkota di kepalanya.
“Untuk apa itu?” tanya vina.
Aku yang mendengarkan pertanyaan vina hanya diam
sambil mengatur pose manekin yang barusan kuambil, setelah dirasa sudah cukup
aku pun menjawab pertanyaannya.
“Oke sekarang kamu lihat kan ada dua manekin di situ
yang satu tanpa mahkota yang satu memakai mahkota. Kita ibaratkan yang memakai
mahkota adalah si perempuan dan yang tidak adalah si laki-laki. Kemudian kau
lihat tangan si laki-laki seperti ingin menghapus airmata si perempuan kan?”
“Sebenarnya
si laki-laki itu juga ingin menangis, cuman emang dasar lelaki ya..yang selalu
berusaha kuat di segala keadaan jadi dia hanya menangis dalam hati. Tapi bukan
itu poin utamanya, dia ingin menghapus airmata itu dan meyakinkan si perempuan
bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jadi sekarang kamu mengerti kan alasanku?”
tanyaku padanya
Asisten sekaligus sahabatku itu akhirnya menyetujui
perkataanku.
“Ya ya ya aku mengerti alasanmu memang cukup
kuat...maaf aku selalu melihat itu dari penampakannya saja dan aku gak
menyangka manekin itu penuh makna,” Ucapnya seraya tersenyum
"Ya kau benar manekin penuh makna," ucapku
A/N : Cerpen ini juga telah di publish di website Kafe Kopi's Website
0 komentar:
Posting Komentar